Kamis, 20 Desember 2012

Refleksi Filsafat Tujuh

1.      Pertanyaan Lina Dwi A. S : Apakah hakekat angin?
Jawaban:
Objek dalam filsafat itu berdimensi. Dimensi yang paling primitif adalah intuitif, misalnya sejak kapan kita mengenal angin. Jika kita tidak mampu menjawabnya, maka kita menjadi kaum intuisionism dalam hal angin. Intuisi itu sangat penting, karena 90% bagian hidup kita merupakan intuisi. Intuisi muncul karena ada hal yang tidak bisa didefinisikan. Jika kita memakasa untuk membuat definisi, maka dikhawatirkan akan berbeda artinya. Dari intuisi tersebut terbentuklah apa itu angin. Oleh Imanuel Kant dibuatlah 12 kategori di dalam pikiran kita.
Cara membentuk kategori tersebut melalui intuitif. Setelah terbentuk, kemudian kategori tersebut digunakan untuk berpikir kembali. Dalam filsafat dikenal 4 tahap komunikasi, yaitu material, formal, normatif, spiritual. Kita dapat mengartikan angin secara material maupun formal yaitu angin dapat berupa badai, topan, yang lazim dipakai dalam bentuk formal. Normatif artinya kajian keilmuan dari angin, misalnya secara fisika, tapi jika merupakan gejala alam dapat menonjol dari ilmu bidangnya, misalnya dari bidang geografi, angin adalah pergerakan. Angin secara spiritual dapat dicari di kitab suci, jika tidak ada berarti pemahaman angin hanya sampai pada bentuk normatifnya.

2.      Pertanyaan Eka Budhiarti: Apakah hakekat dari perceraian?
Jawaban:
Kita dapat melihat arti cerai dokumen resmi. Misalnya dalam undang-undang perkawinan. Ini merupakan arti perceraian secara formal. Secara spiritual pun dapat diartikan apa itu perceraian. Normatifnya dilihat dari baik buruknya suatu perceraian itu.

3.      Pertanyaan Nurmanita: Dalam suatu pernikahan, bila suami/istri dan orang tua sama-sama membutuhkan bantuan, manakah yang seharusnya didahulukan?
Jawaban:
Yang diutamakan adalah komunikasi.

4.      Pertanyaan Cony Devilita: Apakah hakekat keyakinan dan kepercayaan dalam tinjauan agama?
Jawaban:
Ada term yang berkembang, kepercayaan itu naik pagkat/ naik derajat. Setelah ada persoalan lalu disebutlah apa itu kepercayaan. Bahasa pun mengalami kemunduran, misalnya bekas. Dahulu bekas itu dapat digunakan untuk manusia, namun sekarang tidak lazim, sekarang kita menyebutnya dengan mantan. Kalimat-kalimat tersebut dapat mengalami reduksi. Ada juga undang-undang yang mengatur kepercayaan. Iniah bentuk formalnya. Secara formal dapat dilihat dalam dokumen-dokumen yang relevan.

5.      Pertanyaan Rudy Prasetyo: Bagaimana menanggapi keadaan agar tidak semakin terpuruk?
Jawaban:
Misalnya kejadian musibah di Amerika, yang dapat mengibur adalah orang yang lebih tinggi atau memiliki wewenang lebih. Jika sebaya atau sederajat maka hanya menghibur sesaat atau bahkan tidak didengar. Cara menanggapinya adalah dengan ikhtiar dan berdoa. Merasa terpuruk pun dapat merupakan anugerah.

6.      Pertanyaan Rina Susilowati: Bagaimana cara menumbuhkan semangat ketika gagal?
Jawaban:
Setiap hal yang ada dan yang mungkin ada dapat digunakan untuk memotivasi. Kita harus melihat ke bawah agar lebih bersyukur dan termotivasi. Selain itu, kita dapat menentukan tujuan hidup dan memanfaatkan kesempatan yang ada. Cara selanjutnya adalah dengan komunikasi.

7.      Pertanyaan Tri Wahyuni: Mengapa ada pro dan kontra? Apa sebabnya?
Jawaban:
Hal tersebut merupakan kodrat, sunatullah. Tuhan menciptakan segala sesuatu ini bertolak belakang, mislanya laki-laki-perempuan, siang-malam, dll. Dalam hidup selalu ada pro dan kontra. Pro dan kontra dalam pikiran merupakan ilmu. Tetapi jika di dalam hati merupakan godaan syaitan

8.      Pertanyaan Siti Nurunniyah: Apakah hakekat perubahan?
Jawaban:
Hakekat merupakan ontologi, epistemologinya tidak dpaat dipisahkan. Jika dilihat dari ilmu bidangnya, perubahan adalah berubahnya warna misalnya karena reaksi kimia. Kata-kata berubah pun juga bisa merupakan pengertian intuitif.

9.      Pertanyaan Yunia Indri H:
a.       Jika ada dua orang, satu orang tua satu yang lebih muda. Orang tua dapat disebut dewa bagi yang lebih muda, tapi disisi lain orang yang lebih muda tersebut dapat juga disebut dewa. Apakah syarat-syarat disebut dewa?
Jawaban:
Segala sesuatu dapat disebut dewa dilihat berdasarkan ruang dan waktu. Setiap hal yang ada dan yang mungkin ada dapat berupa dewa. Tapi yang tidak dapat dikejar adalah usia. Jika dilihat dari usia, maka yang lebih tua adalah dewa bagi yang lebih muda
b.      Bagaimana telaah cara membedakan hasil berpikir filsafat?
Jawaban:
Berfikir filsafat dapat dilihat dari kerangkanya. Berpikir filsafat itu melipiti ontologis dan epistemologis, dan aksiologis. Berfilsafat itu adalah pikiran para filsuf. Berfilsafat itu ekstensif dan intensif.

10.  Pertanyaan Ermitasari:
a.       Mengapa ada bencan/gejala alam yang semakin kompleks?
Jawaban:
Bagi orang tua, justru melihatnya semakin sederhana karena ada hal-hal yang telah dilupakan, namun juika kita melihatnya semakin kompleks maka kita telah mampu memahami.
b.      Apakah segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada dapat dikatakan sebagai ciptaan Tuhan?
Jawaban:
Semua itu dapat dikatakan hanya sebagian dari ciptaan Tuhan, sebagian ciptaan yang lain misalnya adalah rahmat dan keyakinan. Yang diciptakan bagi diri kita itu belum seberapa. Orang di Inggris tidak akan mampu memahami kota London, karena mereka sibuk dengan ciptaannya sendiri. Kita perlu mensyukuri apa yang ada. Setiap yang ada dan yang mungkin ada wajib disyukuri karena semua itu merupakan rahmat-Nya. Ternyata dari setiap yang ada dan yang mungkin ada dapat menjadi sumber dosa, sehingga selain bersyukur juga memohon ampun.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar