Minggu, 06 Januari 2013

Refleksi Filsafat Delapan


Setiap selesai melakukan kuliah filsafat, kami dianjurkan untuk melakukan refleksi. Saya sangat bersyukur mendapatkan kuliah ini karena di tengah kesibukan atau keseharian kami yang begitu padat, kami memiliki waktu untuk duduk melingkar dan belajar berfilsafat. Refleksi sendiri berarti sebuah kesempatan untuk memahami dan mengimplementasikan segenap aspek-aspek dalam filsafat. Dari matematika menuju hidup. Melakukan refleksi tidak hanya dilakukan pada perkuliahan filsafat saja namun pada seluruh cabang ilmu yang ada. Pada akhirnya refleksi digunakan untuk membangun manusia dalam menggapai keselamatan dunia dan akhirat.
Filsafat telah bertransformasi diantara makro dan mikro. Makro adalah aspek aspek atay segala sesuatu yang bersifat universal, sedangkan mikro adalah diri sendiri. Ketika orang Yunani berusaha membongkar atau mengalahkan mitos-mitos, sebenarnya itu sudah terjadi dalam dirinya. Terjadi di dalam diriku dirimu terkait ruang dan waktu. Kapan di mana dan untuk apa
Seperti apa mitos itu? Tentu yang membongkar adalah Yunani dewasa. Jangan dianggap mitos tidak ada gunanya. Anak kecil belajar sesuatu segalanya berawal dari mitos. Tidak mengerti maknanya namun melakukannya, itulah mitos. Siswa juga belajar mengenai mitos. Mereka terkadang tidak mengerti apa maknanya namun langsung menggunakan rumus yang diberikan. Hampir 90% anak kecil belajar menggunakan mitos. Mereka belum memikirkannya. Yang memikirkannya tentu orang tua. Apakah orang tua tidak memerlukan mitos? Orang tua tetap memerlukan mitos terikat ruang dan waktu dan spiritualitas.
Kemudian Prof. Marsigit menjelaskan presentasi yang telah disajikan beliau di Chiang Mai tentang The Iceberg Approach of Learning Fractions in Junior High School: Teachers’ Reflection Prior to Lesson Study Activities. Iceberg Approach ini merupakan gambaran gunung es matematika realistik. Di bagian paling dasar ada matematika konkret, di atasnya ada model konkret, lalu model fornal, dan matematika formal. Implementasi filsafat dalam kehidupan ini cukup besar. Filsafat dapat digunakan dalam berbagai bidang, misalnya hermenetika. Kita dapat menggunakan hermenetika hidup, hermenetika pembelajaran matematika, hermenetika keluarga, dll. Unsur dasarnya hermenetika digambarkan dengan garis lurus dan melingkar, lurus karena kita tidak akan pernah mengulangi hal yang sama, semuanya menembus ruang dan waktu. Manusia  memiliki kesadaran dan keterampilan dalam menembus ruang dan waktu. Astronot, presiden itu menembus ruang dan waktu. Ruang tersebut berdimensi. Namun tiap orang berbeda pemikirannya dalam menembus ruang dan waktu. Beribadah itu menembus ruang dan waktu, jika tingkatan iman menurun berarti kita mundur dalam ruang dan waktu. Itulah hermenetika.
Unsur berikutnya adalah melingkar. Melingkar artinya berinteraksi, misal yang di atas guru, dibawah murid, yang di atas kakak, yg di bawah adik, yang di atas akhirat, yang di bawah dunia, yang diatas para filsuf, yang di bawah kita, dst. Ternyata hermenetika meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Dengan adanya hermenetika, diharapkan kita dapat bekerja sama, memiliki motivasi, dan kompetensi. Dalam tingkat global akan timbul tantangan yang semakin pelik. Oleh karena itu jangan lupa daratan, bagaimanapun kondisi kita. Di dunia ini semakin banyak orang yang sombong. Mereka menegakkan bangsa yang satu, di satu sisi Indonesia bersikap toleran, yang dapat juga diartikan bahwa toleran itu karena tidak mengerti. Bangsa yang satu tersebut meminta negara-negara lainnya untuk bergabung. Setelah itu negara-negara yang bergabung diminta untuk menuruti perintahnya. Secara fakta, kita dapat mengatakan orang yang paling siap menghadapi hari kiamat adalah orang yang belajar filsafat. Di negara lain, mereka risau akan hal tersebut. Pikiran mereka dapat seperti itu karena spiritual tidak diletakkan dalam tingkatan paling atas, berbeda dengan dengan orang yang belajar filsafat yang menjadikan spiritual sebagai bagian dari hidupnya.
Di dalam hermenetika ada yang rutin, misal Senin bertemu lagi dengan Senin, bertemu lagi. Ada juga pengembangan diri, dalam filsafat disebut mengadakan yang mungkin ada, membisakan yang mungkin bisa. Yang mungkin ada meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Misalnya dalam penelitian, kita harus memahami data, observasi di kelas, fokus pada apa yang diteliti, misalnya kesulitan siswa. Lalu dari hasil yang ada digunakan untuk membangun kesimpulan secara keseluruhan. Hermeneutic of life itu luar biasa. Ini disederhanakan sebagai matematika konkret, model konkret, model formal, dan matematika formal. Matematika konkret adalah apapun yang kita lihat. Jika di sekitar kita ada ubi karet, contoh matematika konkretnya adalah menghitung banyaknya daun. Namun jika yang ada adalah gambar atau fotonya, hal tersebut sudah menjadi model konkret, karena sudah mengalami campur tangan guru. Jika telah sampai pada penjumlahan-penjumlahan, maka kita dapat menggunakan tangkai ubu tersebut, misalnya panjangnya tangkai sekian cm. Ini adalah contoh bentuk formalnya.
Iceberg di Indonesia digambarkan dengan gunung berapi. Gunung mempunyai metafisik. Apa yang ada dibalik gunung? Dibalik gunung itu adalah kekuasaan Tuhan, tetapi tiap orang memiliki pandangan yang berbeda akan hal itu. Jika kita tidak siap dengan fenomena tersebut maka dapat menjadi bencana, sedangkan jika kita siap maka dapat menjadi hiburan, begitu juga dengan matematika. Jika kita mengajar matematika dalam keadaan siswa tidak siap, maka akan menjadi bencana bagi siswa. Jika siswa dalam kondisi senang maka mereka menjadi siap. Cara untuk menciptakan kesiapan itu antara lain berkomunikasinya dengan dunia siswa. Gunakanlah hal-hal yang dekat dengan sisiwa. Jangan pure mathematics mengurus pendidikan.
Unsur dasar fenomenologi adalah idealisasi dan abstraksi. Dalam filsafat, fenomena meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Segala hal yang jelek, yang mengganggu fokus kita harus dibuang di rumah epoche. Anak kecil, orang tua, pure matematician mengenal fenomenologi. Sekarang yang menjadi masalah adalah kaum absolutis masih menguasai dunia pendidikan anak-anak. Kaum absolutis adalah kaum formal, platonism, ilmu-ilmu basic, karena setiap negara industrial membutuhkan absolutism untuk ujung tombaknya. Dalam jangka panjang, dikhawatirkan akan tercipta manusia-manusia cerdas yang tidak bernurani. Itulah pendidikan yang merampas intuisi siswa. Guru harus merebut kembali intuisi yang telah hilang lalu mengembangkannya. Perubahan dapat dilakukan dengan berbagai macam cara. Intuisi harus didahului dengan kesadaran dan persepsi serta sensasi, sensori motor, penginderaan.
Intuisi dapat berasal dari pengalaman. Pengalaman bersifat kontingen, aposteriori dan empirical. Intuisi ada sejak kecil, peran intuisi misalnya dalam menentukan jauh-dekat, banyak-sedikit, sehingga terbentuklah kategori oleh Immanuel Kant, yaitu kategori kuantiti, relasi, hipotesis, dll .
Hidup ini sebenar-benarnya adalah catatan. Pada dasarnya kita sedang membukukan hidup kita, yang nantinya di akhirat akan dibuka kembali. Apodiktik adalah pasti atau suatu kepastian. Intuisi itu bersifat naik. Jika sudah mencapai kategori di pikiran maka akan turun karena digunakan, demikian seterusnya. Jika intuisi menurun, maka seperti platonism. Cara mendidik seorang platonism seperti itu, sangat keras. Kesalahan yang terjadi saat ini adalah adanya kesalahan tentang pandangan terhadap siswa, yaitu siswa dianggap sebagai tong kosong. Dalam matematika formal yang mengerti hanya guru, beda dengan school mathematics, siswa dapat mengerti, terkadang guru justru tidak mengerti. Begitulah pembelajaran kontekstual. Matematika formal biasanya diawali dengan definisi, lalu timbul pertanyaan untuk apa kita mempelajarinya. Di sini disebiut dengan platonism, idealis. Obyek matematika itu ada di pikiran Anda. Jika diluar pikiran maka angka 3 pun dapat bermacam-macam tergantung pengalaman siswa. Wujudnya dapat berubah-ubah, sesuai dengan paham heraclitos. Jika pada siswa SD sudah diajarkan Platonism, dikhawatirkan akan berbahaya. Dalam penenrapan sehari-hari anak itu adalah satu, anak yang jumlahnya banyak adalah contoh. Kita tidak dapat menggunakan platonism dalam pergaulan kita. Menurut Plato segala hal di dunia ini adalah satu, yang lain hanyalah contoh.
Salah satu cara mengembangkan intuisi anak adalah dengan menghadapkannya pada masalah. Misalnya tentang masalah menghitung banyaknya bunga yang ada di kebun. Biarkan ia menyelesaikannya dengan caranya sendiri. Biarkan ia menggunakan intuisinya. Jika dipaksakan, maka siswa akan “kesurupan”. Mulailah dari hal yang sesuai dengan intuisi kita. Guru perlu pemahaman tentang the nature of school matematics, realistic mathematic and constructivism. Jangan sampai sebagai calon guru kita berpikiran kolot dan tradisional.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar