1.
Pertanyaan
Lina Dwi A. S : Apakah hakekat angin?
Jawaban:
Objek dalam filsafat itu berdimensi. Dimensi yang paling
primitif adalah intuitif, misalnya sejak kapan kita mengenal angin. Jika kita
tidak mampu menjawabnya, maka kita menjadi kaum intuisionism dalam hal angin.
Intuisi itu sangat penting, karena 90% bagian hidup kita merupakan intuisi.
Intuisi muncul karena ada hal yang tidak bisa didefinisikan. Jika kita memakasa
untuk membuat definisi, maka dikhawatirkan akan berbeda artinya. Dari intuisi
tersebut terbentuklah apa itu angin. Oleh Imanuel Kant dibuatlah 12 kategori di
dalam pikiran kita.
Cara membentuk kategori tersebut melalui intuitif. Setelah
terbentuk, kemudian kategori tersebut digunakan untuk berpikir kembali. Dalam
filsafat dikenal 4 tahap komunikasi, yaitu material, formal, normatif,
spiritual. Kita dapat mengartikan angin secara material maupun formal yaitu
angin dapat berupa badai, topan, yang lazim dipakai dalam bentuk formal.
Normatif artinya kajian keilmuan dari angin, misalnya secara fisika, tapi jika
merupakan gejala alam dapat menonjol dari ilmu bidangnya, misalnya dari bidang
geografi, angin adalah pergerakan. Angin secara spiritual dapat dicari di kitab
suci, jika tidak ada berarti pemahaman angin hanya sampai pada bentuk
normatifnya.
2. Pertanyaan Eka Budhiarti: Apakah
hakekat dari perceraian?
Jawaban:
Kita dapat melihat arti cerai dokumen resmi. Misalnya dalam
undang-undang perkawinan. Ini merupakan arti perceraian secara formal. Secara
spiritual pun dapat diartikan apa itu perceraian. Normatifnya dilihat dari baik
buruknya suatu perceraian itu.
3. Pertanyaan Nurmanita: Dalam suatu
pernikahan, bila suami/istri dan orang tua sama-sama membutuhkan bantuan,
manakah yang seharusnya didahulukan?
Jawaban:
Yang diutamakan adalah komunikasi.
4. Pertanyaan Cony Devilita: Apakah
hakekat keyakinan dan kepercayaan dalam tinjauan agama?
Jawaban:
Ada term yang berkembang, kepercayaan itu naik pagkat/ naik
derajat. Setelah ada persoalan lalu disebutlah apa itu kepercayaan. Bahasa pun
mengalami kemunduran, misalnya bekas. Dahulu bekas itu dapat digunakan untuk
manusia, namun sekarang tidak lazim, sekarang kita menyebutnya dengan mantan.
Kalimat-kalimat tersebut dapat mengalami reduksi. Ada juga undang-undang yang
mengatur kepercayaan. Iniah bentuk formalnya. Secara formal dapat dilihat dalam
dokumen-dokumen yang relevan.
5. Pertanyaan Rudy Prasetyo: Bagaimana
menanggapi keadaan agar tidak semakin terpuruk?
Jawaban:
Misalnya kejadian musibah di Amerika, yang dapat mengibur
adalah orang yang lebih tinggi atau memiliki wewenang lebih. Jika sebaya atau
sederajat maka hanya menghibur sesaat atau bahkan tidak didengar. Cara
menanggapinya adalah dengan ikhtiar dan berdoa. Merasa terpuruk pun dapat
merupakan anugerah.
6. Pertanyaan Rina Susilowati:
Bagaimana cara menumbuhkan semangat ketika gagal?
Jawaban:
Setiap hal yang ada dan yang mungkin ada dapat digunakan
untuk memotivasi. Kita harus melihat ke bawah agar lebih bersyukur dan
termotivasi. Selain itu, kita dapat menentukan tujuan hidup dan memanfaatkan
kesempatan yang ada. Cara selanjutnya adalah dengan komunikasi.
7. Pertanyaan Tri Wahyuni: Mengapa ada
pro dan kontra? Apa sebabnya?
Jawaban:
Hal tersebut merupakan kodrat, sunatullah. Tuhan menciptakan
segala sesuatu ini bertolak belakang, mislanya laki-laki-perempuan,
siang-malam, dll. Dalam hidup selalu ada pro dan kontra. Pro dan kontra dalam
pikiran merupakan ilmu. Tetapi jika di dalam hati merupakan godaan syaitan
8. Pertanyaan Siti Nurunniyah: Apakah
hakekat perubahan?
Jawaban:
Hakekat merupakan ontologi, epistemologinya tidak dpaat
dipisahkan. Jika dilihat dari ilmu bidangnya, perubahan adalah berubahnya warna
misalnya karena reaksi kimia. Kata-kata berubah pun juga bisa merupakan
pengertian intuitif.
9. Pertanyaan Yunia Indri H:
a.
Jika ada dua orang, satu orang tua
satu yang lebih muda. Orang tua dapat disebut dewa bagi yang lebih muda, tapi
disisi lain orang yang lebih muda tersebut dapat juga disebut dewa. Apakah
syarat-syarat disebut dewa?
Jawaban:
Segala
sesuatu dapat disebut dewa dilihat berdasarkan ruang dan waktu. Setiap hal yang
ada dan yang mungkin ada dapat berupa dewa. Tapi yang tidak dapat dikejar
adalah usia. Jika dilihat dari usia, maka yang lebih tua adalah dewa bagi yang
lebih muda
b.
Bagaimana telaah cara membedakan
hasil berpikir filsafat?
Jawaban:
Berfikir
filsafat dapat dilihat dari kerangkanya. Berpikir filsafat itu melipiti
ontologis dan epistemologis, dan aksiologis. Berfilsafat itu adalah pikiran
para filsuf. Berfilsafat itu ekstensif dan intensif.
10. Pertanyaan
Ermitasari:
a.
Mengapa ada bencan/gejala alam yang
semakin kompleks?
Jawaban:
Bagi orang
tua, justru melihatnya semakin sederhana karena ada hal-hal yang telah
dilupakan, namun juika kita melihatnya semakin kompleks maka kita telah mampu
memahami.
b. Apakah segala sesuatu yang ada dan
yang mungkin ada dapat dikatakan sebagai ciptaan Tuhan?
Jawaban:
Semua itu
dapat dikatakan hanya sebagian dari ciptaan Tuhan, sebagian ciptaan yang lain
misalnya adalah rahmat dan keyakinan. Yang diciptakan bagi diri kita itu belum
seberapa. Orang di Inggris tidak akan mampu memahami kota London, karena mereka
sibuk dengan ciptaannya sendiri. Kita perlu mensyukuri apa yang ada. Setiap
yang ada dan yang mungkin ada wajib disyukuri karena semua itu merupakan
rahmat-Nya. Ternyata dari setiap yang ada dan yang mungkin ada dapat menjadi
sumber dosa, sehingga selain bersyukur juga memohon ampun.