Kamis, 20 Desember 2012

Refleksi Filsafat Satu

Pertanyaan pertama yang muncul ketika belajar filsafat adalah mengapa kita perlu mempelajari filsafat. Jawabannya adalah karena filsafat meniru terminologi dunia. Dunia dapat digunakan di depan kata apapun, begitu juga dengan filsafat, misalnya filsafat pendidikan, filsafat agama, dsb. Karena filsafat adalah olah pikir, maka kita dapat memikirkan apapun yang ada di dunia ini, walaupun terbatas. Filsafat merupakan ilmu yang multi muka, artinya ilmu yang bisa menjadi dua hal kebalikannya, misalnya bisa dekat tetapi juga bisa menjadi sangat jauh, bisa menghibur tetapi juga bisa berbahaya. Untuk mengantisipasinya maka diperlukan adab/tata cara.
Adab/tata cara berfilsafat terdiri dari beberapa hal, yaitu:
1.      Kedudukan filsafat dikaitkan dengan spiritual
Kedudukan filsafat tidak boleh melebihi kedudukan spiritual. Dasar berfilsafat adalah spiritual. Sebelum dan sesudah berfilsafat harus disertai dengan doa. Kesalahan dalam berfilsafat adalah mencoba berfilsafat tentang misteri Tuhan. Walaupun kedudukan filsafat itu tinggi, namun jangan pernah melebihi keyakinan/spiritual karena keyakinan itu tak terbatas, dikhawatirkan justru akan melemahkan keyakinan itu sendiri. Dalam memahami elegi, kita harus menggunakan pola pikir semampu kita atau tunggu momentum yang tepat.
Ada kisah tentang seorang matematikawan hebat yang tidak percaya akan adanya Tuhan karena ia tidak mengerti siapa Tuhan itu. Hal tersebut salah, karena untuk bisa bertemu Tuhan tidak hanya menggunakan pikiran, namun diperlukan juga hati dan keyakinan.
2.      Filsafat itu hidup
Ketika kita menanyakan cinta, kita tidak tau seberapa besar batasan cinta. Mengapa? karena cinta itu hidup dan akan terus hidup. Demikian juga dengan filsafat. Filsafat itu hidup, maka untuk memepelajarinya diperlukan metode yang hidup. yang akibatnya adalah muncul metode sehat dan metode tidak sehat, metode bahagia dan metode hidup susah. Demikian juga dengan filsafat, maka akan ada filsafat sehat, filsafat tidak sehat, filsafat bahagia, filsafat susah, dsb. Filsafat yang sehat adalah filsafat yang beradap, mengenal tata cara dan sopan santun.
3.      Menggunakan bahasa analog
Dalam berfilsafat, bahasa analog itu penting, misalkan kita menyebutkan “hati” yang dapat berarti spiritual, keyakinan, atau ketuhanan. Kita dapat juga menyebutkan kata “pikiran” yang berarti urusan manusia, urusan dunia, maupun urusan lain yang nampak.
4.      Obyek/yang dipelajari dalam filsafat
Obyek yang dipelajari dalam berfilsafat adalah obyek yang ada dan yang mungkin ada. Obyek yang ada adalah obyek yang sudah diketahui, sedangkan obyek yang mungkin ada adalah obyek yang belum diketahui. Obyek yang mungkin ada dapat dicari di dalam lingkungan sekitar dengan cara melihat, meraba, dan memikirkannya.
5.      Berfilsafat perlu membersihkan diri (berpikir jernih)
Berfilsafat harus dalam kondisi sehat. Dalam berbagai hal, jika dalam kondisi sakit pasti akan mempengaruhi hasil kerja. Jika kita membahas tentang sehat, maka akan berkaitan juga dengan metode hidup. Metode hidup disebut terjemah dan diterjemahkan. Dalam bahasa Yunani disebut Hermenitika, artinya berinteraksi yang refleksif. Setiap hal di dunia ini slaing berinteraksi satu sama lain. Tumbuhan berinteraksi dengan lingkungan, batu berinteraksi dengan udara. Salah satu cara berinteraksi dalam berfilsafat adalah dengan membaca elegi.
Hidup sehat dalam berfilsafat adalah hidup yang harmoni atau seimbang antara unsur-unsurnya. Harmoni itu sendiri identik dengan kebahagiaan. Sumbu dalam kehidupan adalah dengan berikhtiar/usaha. Agar seimbang, maka ikhtiar di dunia harus diimbangi dengan akhirat.
6.      Menerima filsafat/berfilsafat itu tidak hanya diam
Metode hiduplah yang menghidupkan filsafat. Sebenar-benar berfilsafat adalah berinteraksi refleksif yang mengandung berpikir refleksif. Membaca elegi dan membuat komen merupakan salah satu cara mendudukkan diri dalam berfilsafat. Namun selain itu diperlukan juga pengetahuan lain, seperti sejarah perkembangan filsafat.
7.      Filsafat dimulai dengan pertanyaan
Pertanyaan itu muncul dari kekaguman tentang hal-hal kecil
8.      Sopan santun terhadap ruang dan waktu
Salah satu contohnya adalah dengan menyadari bahwa di samping kita ada orang yang jika kita melakukan hal tertentu maka akan merugikan secara materiil.
Sesi tanya jawab:
1.      Pertanyaan Siti Subekti:
Mengapa kupu-kupu yang indah berasal dari ulat yang menyeramkan?
jawaban: hal tersebut merupakan hukum alam. Kita harus mensyukurinya
2.      Pertanyaan Nensi:
Bagaimana tumbuhan mempertahankan habitatnya?
jawaban: hal tersebut menggunakan hukum alam. Hukum itu berdimensi dari hukum materialnya samapai hukum spiritualnya.
3.      Peertanyaan Yunia:
Apa guna filsafat dalam pendidikan matematika?
jawaban: Sama seperti pentingnya berpikir dalam matematika.
4.      Pertanyaan Yulia:
Apa yang dilakukan semut saat bertemu semut lain? Mengapa berhenti sesaat saat bertemu?
jawaban: Bisa karena berbagai hal, dan hal tersebut masih perlu diselidiki
5.      Pertanyaan Eko:
Bagaimana memahami apa yang ada di luar kita padahal memahami diri sendiri sangat susah?
jawaban: Jika filsafat tentang diri kita, tinggal bagaimana menjelaskannya kepada orang lain.
6.      Pertanyaan Siti Zainab:
Apa kaitannya belajar filsafat dengan belajar matematika?
jawaban: Sama-sama berpikir
7.      Pertanyaan Felisitas:
Apa hakekat rumput yang bergoyang?
jawaban: Bisa berbagai macam. Bisa saja rumput itu merasa senang ketika kita senang, atau rumput tersbeut medoakan langkah kita, tapi suatu saat bisa saja rumput tersebut sedih dengan perilaku kita.
8.      Pertanyaan Fitria:
Apa hakekat roda yang berputar?
jawaban: Bergerak, berusaha menunjukkan perubahan. Dalam perubahan tersebut ada yang bergerak dan ada yang tetap, misalnya pusat tetap sebagi pusat dan jari jari tetap sebagai jari-jari.
9.      Pertanyaan Ermitasari:
Mengapa orang sapat membentuk pola pikir bahwa dirinyalah yang paling benar?
jawaban: Karena filsafat tidak jauh dari diri sendiri. Pikiran yang paling benar bersifat kontekstual, tergantung kapan dan di mananya.
10.  Pertanyaan Arlian Bety:
Apa hakekat kehilangan?
jawaban: Kehilangan kuasa terhadap obyek yang dimaksud, atau tak kuasa lagi menggunakannya.
11.  Pertanyaan Dewi Cepsi:
Mengapa menyampaikan amtematika yang mudah menjadi sulit?
jawaban: Seharusnya kita tidak menyampaikan, namun berusaha membangun sendiri pengetahuan tersebut.
12.  Pertanyaan Dwi Kartika:
Apa pentingnya berfilsafat?
jawaban: sama pentingnya dengan berpikir.
13.  Pertanyaan Rina:
Apakah filsafat mempengaruhi keyakinan?
jawaban: Seharusnya keyakinanlah yang mempengaruhi berfilsafat.
14.  Pertanyaan Ridha:
Apakah elegi itu?
jawaban: Apa arti elegi itu dapat dicari di blog.
15.  Pertanyaan Rusda
Apakah hubungan daun yang bergoyang dengan matematika?
jawaban: serendah-rendahnya berfilsafat adalah sama-sama dipikirkan
16.  Pertanyaan Kristina
Apakah hubungan filsafat dengan tanah?
jawaban: Adanya filsafat dan filsafat tanah. Hal tersebut sama-sama dipikirkan.
17.  Pertanyaan Tri wahyuni:
Apakah hakekat mahasiswa jurusan pendidikan matematika?
jawaban: Pertanda ia hidup agar matematika tidak terbang di atas awan. Matematika berkaitan dengan anak kecil, padahal anak kecil tidak dapat terbang, maksudnya anak kecil perlu bimbingan
18.  Pertanyaan Anniltal:
Bagaimana perasaan seekor kucing yang hamil tetapi tak bisa makan. Berapa lama ia dapat bertahan?
jawaban: hal tersebut merupakan sifat dari suatu objek
19.  Pertanyaan Cony:
Apa cinta itu terbatas?
jawaban: cinta dapat terbatas dan tidak terbatas. Mencintai dapat juga bermakna kasih saying. Cinta dapat juga dibatasi ruang dan waktu.
20.  Pertanyaan Aries:
Kekaguman terhadap orang tua termasuk adab yang bagaimana? Apa yang dimaksud dengan kagum?
jawaban: Kagum tanpa memikirkannya adlaah mitos. Berfilsafat mencari logis (ilmu).
21.  Pertanyaan Naafi:
Mengapa perdamaian dunia itu susah untuk diwujudkan?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar