Berfilsafat itu
sesungguhnya adalah pola pikir. Berfilsafat sendiri harus memiliki referensi.
Referensi berfilsafat adalah para filsuf. Semuanya sudah ada (sebagai
referensi), sebagian belum ada namun sudah dipikirkan oleh para filsuf.
Filsafat bisa digolongkan menurut objeknya. Misalkan tentang manusia berarti
filsafat manusia. Semua mengenai alam maka disebut filsafat alam, mengenai spiritual
maka disebut filsafat spiritual. Menurut letaknya objek, filsafat membagi dua
macam yaitu di dalam pikiran dan di luar pikiran. Yang di dalam pikiran itu
tokoh filsafatnya adalah Plato sedangkan yang di lyar pikiran tokohnya adalah
Aristoteles. Yang berada di dalam pikiran itu sifatnya ideal atau tetap. Obyek
piker yang di luar sifatnya berubah. Yang di dalam pikiran sifatnya adalah
realism sedangkan yang di luar pikiran sifatnya idealism.
Jika dilihat
dari banyaknya obyek maka disebut monoisme yang benar dua maka disebut
dualisme, yang benar banyak maka disebut pluralism. Monoisme mengacu kebenaran
pada kausa prima yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Maka aliran filsafat sesungguhnya
berasal dari macam objek, karakteristik objek dan lokasi objek, di mana dari ketiga
hal tersebut sudah bisa menghasilkan bermacam-macam filsafat.
Setiap yang ada
dan yang mungkin ada itu memiliki filsafatnya sendiri. Semua itu urusan
manusia. Manusia tidak sempurna, maka ia berfilsafat. Manusia tidak bisa hidup
di air terus menerus, maka manusia bisa membedakan hidup di air dan di udara.
Maka sebenarnya segala hal yang mungkin ada dan yang tidak ada itu membuat kita
semakin bersyukur atas segala hal. Rasa syukur yang terus meneruspun terasa
berat, maka rasa syukur yang terus-menerus, berdoa terus menerus, mohon ampun
terus menerus itu harusnya menjadi hal yang kita lakukan sebagai ritual
sehari-hari. Kaitannya dengan keterbatasan manusia memikirkannya sebagai
manusia yang menembus ruang dan waktu.
Menembus ruang
waktu, jika kita introspeksi terhadap diri kita sendiri, maka sesungguhnya kita
mengalami perubahan. Jika dalam berfilsafat maka dengan berpikir rasional kita
dapat menembus ruang dan waktu. Pikiran filsuf kita berkorespondensi dalam
kehidupan kita. Jika kita membicarakan menembus ruang dan waktu maka akan
muncul pertanyaan siapa yang menembus ruang dan waktu? Apakah diriku? Dirimu?
Lalu siapa? Yaitu sesungguhnya subyek yang terbatas ruang dan waktu. Kita
memiliki dimensi ruang dan waktu. Ruang itu pikiran meliputi yang ada dan yang
belum ada. Untuk mengetahui ruang maka harus mengetahui waktu. Untuk mengetahui
waktu maka harus mengetahui ruang. Jadi diriku adalah aku yang terbatas ruang
dan waktu.
Ruang itu
terdiri dari wadah dan isi. Apa wadahnya apa isinya? Maka obyek pikiran itu
adalah wadah dan isi. Untuk bisa mengetahui ruang kita harus mengetahui waktu,
begitu juga sebaliknya. Sebenar-benar waktu dan sebenar benar ruang sebenarnya
hanya ada di dalam pikiran kita. Maka sesungguhnya intuisi itu penting. Intuisi
akan membantu kita berpikir. Berpikir tidak mungkin dilakukan tanpa bantuan
intuisi.
Terdapat empat
ruang yaitu material, formal, normative, dan spiritual. Material adalah diri
kita sendiri. Formal adalah yang tertulis. Normative itu filsafat, tata karma
aturan, dst. Spiritual ada di atas normative. Ruang meliputi yang ada dan tidak
ada. Kita bisa menciptakan ruang-ruang yang lain. Kita menggunakan intuisi
untuk menemukan ruang-ruang yang lain. Hanya orang-orang yang berilmu yang bisa
menemukan ruang-ruang lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar