Kamis, 20 Desember 2012

Releksi Filsafat Tiga

Berfilsafat itu sesungguhnya adalah pola pikir. Berfilsafat sendiri harus memiliki referensi. Referensi berfilsafat adalah para filsuf. Semuanya sudah ada (sebagai referensi), sebagian belum ada namun sudah dipikirkan oleh para filsuf. Filsafat bisa digolongkan menurut objeknya. Misalkan tentang manusia berarti filsafat manusia. Semua mengenai alam maka disebut filsafat alam, mengenai spiritual maka disebut filsafat spiritual. Menurut letaknya objek, filsafat membagi dua macam yaitu di dalam pikiran dan di luar pikiran. Yang di dalam pikiran itu tokoh filsafatnya adalah Plato sedangkan yang di lyar pikiran tokohnya adalah Aristoteles. Yang berada di dalam pikiran itu sifatnya ideal atau tetap. Obyek piker yang di luar sifatnya berubah. Yang di dalam pikiran sifatnya adalah realism sedangkan yang di luar pikiran sifatnya idealism.
Jika dilihat dari banyaknya obyek maka disebut monoisme yang benar dua maka disebut dualisme, yang benar banyak maka disebut pluralism. Monoisme mengacu kebenaran pada kausa prima yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Maka aliran filsafat sesungguhnya berasal dari macam objek, karakteristik objek dan lokasi objek, di mana dari ketiga hal tersebut sudah bisa menghasilkan bermacam-macam filsafat.
Setiap yang ada dan yang mungkin ada itu memiliki filsafatnya sendiri. Semua itu urusan manusia. Manusia tidak sempurna, maka ia berfilsafat. Manusia tidak bisa hidup di air terus menerus, maka manusia bisa membedakan hidup di air dan di udara. Maka sebenarnya segala hal yang mungkin ada dan yang tidak ada itu membuat kita semakin bersyukur atas segala hal. Rasa syukur yang terus meneruspun terasa berat, maka rasa syukur yang terus-menerus, berdoa terus menerus, mohon ampun terus menerus itu harusnya menjadi hal yang kita lakukan sebagai ritual sehari-hari. Kaitannya dengan keterbatasan manusia memikirkannya sebagai manusia yang menembus ruang dan waktu.
Menembus ruang waktu, jika kita introspeksi terhadap diri kita sendiri, maka sesungguhnya kita mengalami perubahan. Jika dalam berfilsafat maka dengan berpikir rasional kita dapat menembus ruang dan waktu. Pikiran filsuf kita berkorespondensi dalam kehidupan kita. Jika kita membicarakan menembus ruang dan waktu maka akan muncul pertanyaan siapa yang menembus ruang dan waktu? Apakah diriku? Dirimu? Lalu siapa? Yaitu sesungguhnya subyek yang terbatas ruang dan waktu. Kita memiliki dimensi ruang dan waktu. Ruang itu pikiran meliputi yang ada dan yang belum ada. Untuk mengetahui ruang maka harus mengetahui waktu. Untuk mengetahui waktu maka harus mengetahui ruang. Jadi diriku adalah aku yang terbatas ruang dan waktu.
Ruang itu terdiri dari wadah dan isi. Apa wadahnya apa isinya? Maka obyek pikiran itu adalah wadah dan isi. Untuk bisa mengetahui ruang kita harus mengetahui waktu, begitu juga sebaliknya. Sebenar-benar waktu dan sebenar benar ruang sebenarnya hanya ada di dalam pikiran kita. Maka sesungguhnya intuisi itu penting. Intuisi akan membantu kita berpikir. Berpikir tidak mungkin dilakukan tanpa bantuan intuisi.
Terdapat empat ruang yaitu material, formal, normative, dan spiritual. Material adalah diri kita sendiri. Formal adalah yang tertulis. Normative itu filsafat, tata karma aturan, dst. Spiritual ada di atas normative. Ruang meliputi yang ada dan tidak ada. Kita bisa menciptakan ruang-ruang yang lain. Kita menggunakan intuisi untuk menemukan ruang-ruang yang lain. Hanya orang-orang yang berilmu yang bisa menemukan ruang-ruang lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar