Kamis, 20 Desember 2012

Refleksi Filsafat Enam

1.      Pertanyaan Yulian Angga: Apakah segala sesuatu di alam semesta ini memiliki pola?
Jawaban:
Sebuah pola bukanlah pola bagi orang yang tidak mengetahui. Kalau kita percaya dan mampu memahami, maka semua telah di desain oleh Tuhan itu memiliki pola, namun kita belum mampu mengulasnya secara keseluruhan. Kita mampu menyatakan suatu benda dan benda yang lainnya berpola jika kita mampu memahami dan meyakininya.

2.      Pertanyaan Rina susilowati:
a.    Apa hakekat perbedaan dalam persatuan?
Jawaban:
Orang itu berbeda dalam banyak hal tapi dapat juga sama dalam banyak hal. Jika dilihat secara mendalam maka semua orang itu berbeda tapi juga sama, misalnya semua orang itu adalah makhluk hidup, semua orang sama-sama membutuhkan makan, semua orang pasti akan mati, namun disisi ain ada juga perbedaannya karena manusia sangat terikat ruang dan waktu. Jika kita memperhitungkan ruang dan waktu, maka tiap orang itu tidak sama.
b.    Kapan sesuatu itu disebut sebagai mimpi?
Jawaban:
Mimpi itu sangat berpengaruh dengan kehidupan yang kita alami. Mimpi dapat berawal dari kesan yang mendalam. Kualitas mimpi pun berbeda-beda. Area mimpi dapat dipelajari dengan menggunakan psikologi dalam ilmu gejala jiwa.

3.      Pertanyaan Ermitasari: Apakah beda cinta dengan sayang?
Jawaban:
Jika dilihat dari persamaannya, sayang dan cinta sama-sama kontekstual dan berdimensi. Keduanya merupakan bagian dari intuisi sehingga kita tidak dapat mendefinisikan dengan jelas apa itu cinta dan sayang, kecuali dengan memberikan gambaran-gambaran yang mendeskripsikannya. Cara membedakan cinta dan sayang adalah melalui intuisi. Pengalamanlah yang dapat membedakannya, karena dari pengalaman itulah kita mampu membentuk pengertian apa itu cinta dan apa itu sayang. Perbedaannya dapat dilihat dari konteksnya. Disini intuisilah yang berperan. Mungkin saja definisi setiap orang berbeda-beda.

4.      Pertanyaan Dwi Kartika Sari: Obyek filsafat meliputi yang ada dan yang mungkin ada, mengapa yang tidak ada itu tidak termasuk dalam obyek filsafat?
Jawaban:
Obyek filsafat itu tergantung pada ruang dan waktunya. Yang tidak ada itu bisa saja menjadi ada. Obyek filsafat yang tidak ada dapat dikategorikan dalam obyek yang mungkin ada.

5.      Pertanyaan Nurmanita Prima: Bagaimana hakikat guru matematika yang dianggap galak di sekolah?
Jawaban:
Sepertinya kurang tepat jika kita menggunakan istilah hakekat guru yang galak, karena galak tidak dapat didefinisikan. Jika yang dimaksud adalah ciri-ciri guru yang galak, maka kita dapat menyebutkannya, yaitu suka marah, toleransinya kecil, atau suka memaksakan kehendak.

6.      Pertanyaan Arlian Bety: Bagaimana menghadapi orang yang pelit, tidak mau membagi ilmunya dengan orang lain?
Jawaban:
Kita dapat mengandalkan komunikasi, namun jika yang bersangkutan tidak mau, janganlah sekali-kali kita memaksanya, karena ada hal-hal yang tidak mungkin dapat kita lakukan walaupun demi hal yang lebih baik. Dalam bertanya, metode yang digunakan itu juga penting. Pada dasarnya dalam hal pengetahuan, kita harus membuka diri, siapa saja yang membutuhkan silahkan mengambil ilmu kita, kita harus menghargai mereka yang ingin belajar.
Kita berbeda dengan warga negara kapitalis. Orang-orang di sana beorientasi bisnis, maka mereka mulai memberi harga pada apa yang ia pikirkan. Di Amerika ada istilah teacher pays teacher. Ide-ide yang dibuat dibayar oleh orang lain yang membutuhkan.

7.      Pertanyaan Naafi: Bagaimana cara memberikan pemahaman pada guru tentang matematika?
Jawaban:
Kita jangan melihat orang lain sebagai obyek. Alangkah baiknya jika kita bersama sama dengan mereka berdiskusi dan saling memberikan masukan. Sehingga kita bisa sama-sama belajar. Baiknya guru itu sendiri yang memiliki keinginan untuk belajar. Jangan kita yang memberikan pemahaman pada guru, tapi guru yang seharusnya meng-construct pengetahuannya sendiri.

8.      Pertanyaan Felisitas:
a.    Apakah penyebab krisis multi-dimensi?
Jawaban:
Penyebab krisis multi-dimensi adalah guru. Contohnya adalah perilaku guru yang tidak mau bersama-sama memberi masukan. Guru yang menganggap siswa sebagai tong kosong, tidak mau memberikan kesempatan bagi siswa untuk membangun pengetahuannya sendiri.
b.    Mengapa belajar filsafat itu sulit?
Jawaban:
Karena kita mempelajarinya secara ekstensif dan intensif, yaitu seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya, meliputi yang ada dan yang mungkin ada.

9.      Pertanyaan Siti subekti: Apakah yang dimaksud hermenetika?
Jawaban:
Hermenetika artinya terjemah dan menerjemahkan, dalam budaya kita disebut sebagai silaturahim. Jika mempelajari matematika, guru harus memfasilitasi agar siswa mampu bersilaturahim dengan matematika.

10.  Pertanyaan Rudi Prasetyo: Bagaimana mengalahkan kemalasan?
Jawaban:
Malas bisa dipengaruhi dari fisik kita. Misalnya kita adalah orang gemuk, maka godaan orang gemuk itu mudah tidur. Tetapi tidak semua orang gemuk seperti itu. Berfilsafat itu dapat membuat badan menjadi kurus, karena mengerti itu dapat menyebabkan tidak bahagia.

11.  Pertanyaan Aries Saputra: Secara filsafat apakah ada kaitan antara khayalan dengan cita-cita?
Jawaban:
Iya tentu. Cita-cita adalah khayalan tapi khayalan itu belum tentu cita-cita. Cita-cita merupakan khayalan yang tersistem. Ada landasan, alasan, dan latar belakangnya. Cita-cita dapat juga disebut khayalan yang dapat dipertanggungjawabkan.

12.  Pertanyaan Siti zainab: Apakah hakekat sombong?
Jawaban:
Sombong itu bertingkat-tingkat, dapat dilihat dari sudut pandang dari orang awam, psikologi, sampai spiritual. Dalam spiritual, sombong itu berhubungan dengan setan. Tanpa didefinisikan, sombong dapat diartikan secara intuisi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar