1. Pertanyaan
Yulian Angga: Apakah segala sesuatu di alam semesta ini memiliki pola?
Jawaban:
Sebuah pola bukanlah
pola bagi orang yang tidak mengetahui. Kalau kita percaya dan mampu memahami,
maka semua telah di desain oleh Tuhan itu memiliki pola, namun kita belum mampu
mengulasnya secara keseluruhan. Kita mampu menyatakan suatu benda dan benda
yang lainnya berpola jika kita mampu memahami dan meyakininya.
2. Pertanyaan
Rina susilowati:
a. Apa
hakekat perbedaan dalam persatuan?
Jawaban:
Orang itu berbeda dalam
banyak hal tapi dapat juga sama dalam banyak hal. Jika dilihat secara mendalam
maka semua orang itu berbeda tapi juga sama, misalnya semua orang itu adalah
makhluk hidup, semua orang sama-sama membutuhkan makan, semua orang pasti akan
mati, namun disisi ain ada juga perbedaannya karena manusia sangat terikat
ruang dan waktu. Jika kita memperhitungkan ruang dan waktu, maka tiap orang itu
tidak sama.
b. Kapan
sesuatu itu disebut sebagai mimpi?
Jawaban:
Mimpi itu sangat berpengaruh
dengan kehidupan yang kita alami. Mimpi dapat berawal dari kesan yang mendalam.
Kualitas mimpi pun berbeda-beda. Area mimpi dapat dipelajari dengan menggunakan
psikologi dalam ilmu gejala jiwa.
3. Pertanyaan
Ermitasari: Apakah beda cinta dengan sayang?
Jawaban:
Jika dilihat dari
persamaannya, sayang dan cinta sama-sama kontekstual dan berdimensi. Keduanya
merupakan bagian dari intuisi sehingga kita tidak dapat mendefinisikan dengan
jelas apa itu cinta dan sayang, kecuali dengan memberikan gambaran-gambaran
yang mendeskripsikannya. Cara membedakan cinta dan sayang adalah melalui
intuisi. Pengalamanlah yang dapat membedakannya, karena dari pengalaman itulah
kita mampu membentuk pengertian apa itu cinta dan apa itu sayang. Perbedaannya
dapat dilihat dari konteksnya. Disini intuisilah yang berperan. Mungkin saja
definisi setiap orang berbeda-beda.
4. Pertanyaan
Dwi Kartika Sari: Obyek filsafat meliputi yang ada dan yang mungkin ada,
mengapa yang tidak ada itu tidak termasuk dalam obyek filsafat?
Jawaban:
Obyek filsafat itu
tergantung pada ruang dan waktunya. Yang tidak ada itu bisa saja menjadi ada. Obyek
filsafat yang tidak ada dapat dikategorikan dalam obyek yang mungkin ada.
5. Pertanyaan
Nurmanita Prima: Bagaimana hakikat guru matematika yang dianggap galak di
sekolah?
Jawaban:
Sepertinya kurang tepat
jika kita menggunakan istilah hakekat guru yang galak, karena galak tidak dapat
didefinisikan. Jika yang dimaksud adalah ciri-ciri guru yang galak, maka kita
dapat menyebutkannya, yaitu suka marah, toleransinya kecil, atau suka
memaksakan kehendak.
6. Pertanyaan
Arlian Bety: Bagaimana menghadapi orang yang pelit, tidak mau membagi ilmunya
dengan orang lain?
Jawaban:
Kita dapat mengandalkan
komunikasi, namun jika yang bersangkutan tidak mau, janganlah sekali-kali kita
memaksanya, karena ada hal-hal yang tidak mungkin dapat kita lakukan walaupun demi
hal yang lebih baik. Dalam bertanya, metode yang digunakan itu juga penting.
Pada dasarnya dalam hal pengetahuan, kita harus membuka diri, siapa saja yang
membutuhkan silahkan mengambil ilmu kita, kita harus menghargai mereka yang ingin
belajar.
Kita berbeda dengan
warga negara kapitalis. Orang-orang di sana beorientasi bisnis, maka mereka
mulai memberi harga pada apa yang ia pikirkan. Di Amerika ada istilah teacher pays teacher. Ide-ide yang
dibuat dibayar oleh orang lain yang membutuhkan.
7. Pertanyaan
Naafi: Bagaimana cara memberikan pemahaman pada guru tentang matematika?
Jawaban:
Kita jangan melihat
orang lain sebagai obyek. Alangkah baiknya jika kita bersama sama dengan mereka
berdiskusi dan saling memberikan masukan. Sehingga kita bisa sama-sama belajar.
Baiknya guru itu sendiri yang memiliki keinginan untuk belajar. Jangan kita
yang memberikan pemahaman pada guru, tapi guru yang seharusnya meng-construct pengetahuannya sendiri.
8. Pertanyaan
Felisitas:
a. Apakah
penyebab krisis multi-dimensi?
Jawaban:
Penyebab krisis
multi-dimensi adalah guru. Contohnya adalah perilaku guru yang tidak mau
bersama-sama memberi masukan. Guru yang menganggap siswa sebagai tong kosong,
tidak mau memberikan kesempatan bagi siswa untuk membangun pengetahuannya
sendiri.
b. Mengapa
belajar filsafat itu sulit?
Jawaban:
Karena kita
mempelajarinya secara ekstensif dan intensif, yaitu seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya,
meliputi yang ada dan yang mungkin ada.
9. Pertanyaan
Siti subekti: Apakah yang dimaksud hermenetika?
Jawaban:
Hermenetika artinya terjemah
dan menerjemahkan, dalam budaya kita disebut sebagai silaturahim. Jika
mempelajari matematika, guru harus memfasilitasi agar siswa mampu
bersilaturahim dengan matematika.
10. Pertanyaan
Rudi Prasetyo: Bagaimana mengalahkan kemalasan?
Jawaban:
Malas bisa dipengaruhi
dari fisik kita. Misalnya kita adalah orang gemuk, maka godaan orang gemuk itu
mudah tidur. Tetapi tidak semua orang gemuk seperti itu. Berfilsafat itu dapat
membuat badan menjadi kurus, karena mengerti itu dapat menyebabkan tidak bahagia.
11. Pertanyaan
Aries Saputra: Secara filsafat apakah ada kaitan antara khayalan dengan
cita-cita?
Jawaban:
Iya tentu. Cita-cita
adalah khayalan tapi khayalan itu belum tentu cita-cita. Cita-cita merupakan
khayalan yang tersistem. Ada landasan, alasan, dan latar belakangnya. Cita-cita
dapat juga disebut khayalan yang dapat dipertanggungjawabkan.
12. Pertanyaan
Siti zainab: Apakah hakekat sombong?
Jawaban:
Sombong itu
bertingkat-tingkat, dapat dilihat dari sudut pandang dari orang awam,
psikologi, sampai spiritual. Dalam spiritual, sombong itu berhubungan dengan
setan. Tanpa didefinisikan, sombong dapat diartikan secara intuisi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar