Setiap selesai melakukan kuliah
filsafat, kami dianjurkan untuk melakukan refleksi. Saya sangat bersyukur
mendapatkan kuliah ini karena di tengah kesibukan atau keseharian kami yang
begitu padat, kami memiliki waktu untuk duduk melingkar dan belajar
berfilsafat. Refleksi sendiri berarti sebuah kesempatan untuk memahami dan
mengimplementasikan segenap aspek-aspek dalam filsafat. Dari matematika menuju
hidup. Melakukan refleksi tidak hanya dilakukan pada perkuliahan filsafat saja
namun pada seluruh cabang ilmu yang ada. Pada akhirnya refleksi digunakan untuk
membangun manusia dalam menggapai keselamatan dunia dan akhirat.
Filsafat telah bertransformasi
diantara makro dan mikro. Makro adalah aspek aspek atay segala sesuatu yang
bersifat universal, sedangkan mikro adalah diri sendiri. Ketika orang Yunani
berusaha membongkar atau mengalahkan mitos-mitos, sebenarnya itu sudah terjadi
dalam dirinya. Terjadi di dalam diriku dirimu terkait ruang dan waktu. Kapan di
mana dan untuk apa
Seperti apa mitos itu? Tentu yang
membongkar adalah Yunani dewasa. Jangan dianggap mitos tidak ada gunanya. Anak kecil
belajar sesuatu segalanya berawal dari mitos. Tidak mengerti maknanya namun
melakukannya, itulah mitos. Siswa juga belajar mengenai mitos. Mereka terkadang
tidak mengerti apa maknanya namun langsung menggunakan rumus yang diberikan. Hampir
90% anak kecil belajar menggunakan mitos. Mereka belum memikirkannya. Yang memikirkannya
tentu orang tua. Apakah orang tua tidak memerlukan mitos? Orang tua tetap
memerlukan mitos terikat ruang dan waktu dan spiritualitas.
Kemudian Prof. Marsigit menjelaskan
presentasi yang telah disajikan beliau di Chiang Mai tentang The Iceberg
Approach of Learning Fractions in Junior High School: Teachers’ Reflection
Prior to Lesson Study Activities. Iceberg Approach ini merupakan gambaran gunung
es matematika realistik. Di bagian paling dasar ada matematika konkret, di atasnya
ada model konkret, lalu model fornal, dan matematika formal. Implementasi
filsafat dalam kehidupan ini cukup besar. Filsafat dapat digunakan dalam
berbagai bidang, misalnya hermenetika. Kita dapat menggunakan hermenetika
hidup, hermenetika pembelajaran matematika, hermenetika keluarga, dll. Unsur
dasarnya hermenetika digambarkan dengan garis lurus dan melingkar, lurus karena
kita tidak akan pernah mengulangi hal yang sama, semuanya menembus ruang dan
waktu. Manusia memiliki kesadaran dan
keterampilan dalam menembus ruang dan waktu. Astronot, presiden itu menembus
ruang dan waktu. Ruang tersebut berdimensi. Namun tiap orang berbeda
pemikirannya dalam menembus ruang dan waktu. Beribadah itu menembus ruang dan
waktu, jika tingkatan iman menurun berarti kita mundur dalam ruang dan waktu.
Itulah hermenetika.
Unsur berikutnya adalah melingkar. Melingkar
artinya berinteraksi, misal yang di atas guru, dibawah murid, yang di atas
kakak, yg di bawah adik, yang di atas akhirat, yang di bawah dunia, yang diatas
para filsuf, yang di bawah kita, dst. Ternyata hermenetika meliputi yang ada
dan yang mungkin ada. Dengan adanya hermenetika, diharapkan kita dapat bekerja
sama, memiliki motivasi, dan kompetensi. Dalam tingkat global akan timbul
tantangan yang semakin pelik. Oleh karena itu jangan lupa daratan, bagaimanapun
kondisi kita. Di dunia ini semakin banyak orang yang sombong. Mereka menegakkan
bangsa yang satu, di satu sisi Indonesia bersikap toleran, yang dapat juga
diartikan bahwa toleran itu karena tidak mengerti. Bangsa yang satu tersebut
meminta negara-negara lainnya untuk bergabung. Setelah itu negara-negara yang
bergabung diminta untuk menuruti perintahnya. Secara fakta, kita dapat
mengatakan orang yang paling siap menghadapi hari kiamat adalah orang yang
belajar filsafat. Di negara lain, mereka risau akan hal tersebut. Pikiran
mereka dapat seperti itu karena spiritual tidak diletakkan dalam tingkatan
paling atas, berbeda dengan dengan orang yang belajar filsafat yang menjadikan
spiritual sebagai bagian dari hidupnya.
Di dalam hermenetika ada yang rutin,
misal Senin bertemu lagi dengan Senin, bertemu lagi. Ada juga pengembangan
diri, dalam filsafat disebut mengadakan yang mungkin ada, membisakan yang
mungkin bisa. Yang mungkin ada meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Misalnya
dalam penelitian, kita harus memahami data, observasi di kelas, fokus pada apa
yang diteliti, misalnya kesulitan siswa. Lalu dari hasil yang ada digunakan
untuk membangun kesimpulan secara keseluruhan. Hermeneutic of life itu luar biasa. Ini disederhanakan sebagai
matematika konkret, model konkret, model formal, dan matematika formal.
Matematika konkret adalah apapun yang kita lihat. Jika di sekitar kita ada ubi
karet, contoh matematika konkretnya adalah menghitung banyaknya daun. Namun
jika yang ada adalah gambar atau fotonya, hal tersebut sudah menjadi model
konkret, karena sudah mengalami campur tangan guru. Jika telah sampai pada
penjumlahan-penjumlahan, maka kita dapat menggunakan tangkai ubu tersebut, misalnya
panjangnya tangkai sekian cm. Ini adalah contoh bentuk formalnya.
Iceberg di Indonesia digambarkan
dengan gunung berapi. Gunung mempunyai metafisik. Apa yang ada dibalik gunung?
Dibalik gunung itu adalah kekuasaan Tuhan, tetapi tiap orang memiliki pandangan
yang berbeda akan hal itu. Jika kita tidak siap dengan fenomena tersebut maka
dapat menjadi bencana, sedangkan jika kita siap maka dapat menjadi hiburan,
begitu juga dengan matematika. Jika kita mengajar matematika dalam keadaan siswa
tidak siap, maka akan menjadi bencana bagi siswa. Jika siswa dalam kondisi senang
maka mereka menjadi siap. Cara untuk menciptakan kesiapan itu antara lain
berkomunikasinya dengan dunia siswa. Gunakanlah hal-hal yang dekat dengan
sisiwa. Jangan pure mathematics
mengurus pendidikan.
Unsur dasar fenomenologi adalah
idealisasi dan abstraksi. Dalam filsafat, fenomena meliputi yang ada dan yang
mungkin ada. Segala hal yang jelek, yang mengganggu fokus kita harus dibuang di
rumah epoche. Anak kecil, orang tua, pure
matematician mengenal fenomenologi. Sekarang yang menjadi masalah adalah
kaum absolutis masih menguasai dunia pendidikan anak-anak. Kaum absolutis
adalah kaum formal, platonism, ilmu-ilmu basic,
karena setiap negara industrial membutuhkan absolutism untuk ujung tombaknya. Dalam
jangka panjang, dikhawatirkan akan tercipta manusia-manusia cerdas yang tidak
bernurani. Itulah pendidikan yang merampas intuisi siswa. Guru harus merebut
kembali intuisi yang telah hilang lalu mengembangkannya. Perubahan dapat dilakukan
dengan berbagai macam cara. Intuisi harus didahului dengan kesadaran dan
persepsi serta sensasi, sensori motor, penginderaan.
Intuisi dapat berasal dari pengalaman.
Pengalaman bersifat kontingen, aposteriori dan empirical. Intuisi ada sejak kecil, peran intuisi misalnya dalam
menentukan jauh-dekat, banyak-sedikit, sehingga terbentuklah kategori oleh
Immanuel Kant, yaitu kategori kuantiti, relasi, hipotesis, dll .
Hidup ini sebenar-benarnya adalah
catatan. Pada dasarnya kita sedang membukukan hidup kita, yang nantinya di
akhirat akan dibuka kembali. Apodiktik adalah
pasti atau suatu kepastian. Intuisi itu bersifat naik. Jika sudah mencapai
kategori di pikiran maka akan turun karena digunakan, demikian seterusnya. Jika
intuisi menurun, maka seperti platonism. Cara mendidik seorang platonism
seperti itu, sangat keras. Kesalahan yang terjadi saat ini adalah adanya
kesalahan tentang pandangan terhadap siswa, yaitu siswa dianggap sebagai tong
kosong. Dalam matematika formal yang mengerti hanya guru, beda dengan school mathematics, siswa dapat
mengerti, terkadang guru justru tidak mengerti. Begitulah pembelajaran
kontekstual. Matematika formal biasanya diawali dengan definisi, lalu timbul
pertanyaan untuk apa kita mempelajarinya. Di sini disebiut dengan platonism,
idealis. Obyek matematika itu ada di pikiran Anda. Jika diluar pikiran maka
angka 3 pun dapat bermacam-macam tergantung pengalaman siswa. Wujudnya dapat
berubah-ubah, sesuai dengan paham heraclitos. Jika pada siswa SD sudah
diajarkan Platonism, dikhawatirkan akan berbahaya. Dalam penenrapan sehari-hari
anak itu adalah satu, anak yang jumlahnya banyak adalah contoh. Kita tidak
dapat menggunakan platonism dalam pergaulan kita. Menurut Plato segala hal di
dunia ini adalah satu, yang lain hanyalah contoh.
Salah satu cara mengembangkan intuisi
anak adalah dengan menghadapkannya pada masalah. Misalnya tentang masalah
menghitung banyaknya bunga yang ada di kebun. Biarkan ia menyelesaikannya
dengan caranya sendiri. Biarkan ia menggunakan intuisinya. Jika dipaksakan,
maka siswa akan “kesurupan”. Mulailah
dari hal yang sesuai dengan intuisi kita. Guru perlu pemahaman tentang the nature of school matematics, realistic
mathematic and constructivism. Jangan sampai
sebagai calon guru kita berpikiran kolot dan tradisional.