Idealisme ialah filsafat yang
pandangan yang menganggap atau memandang ide itu primer dan materi adalah
sekundernya, dengan kata lain menganggap materi berasal dari ide atau
diciptakan oleh ide.Jadi pengertian idealisme itu bukanlah seperti yang
dianggap orang bahwa kaum Idealis adalah orang-orang yang menjunjung tinggi
kesucian, lebih mementingkan berpikir dari pada makan, dll.Aliran
Idealisme/Spritualisme, yang mengajarkan bahwa ide atau spirit manusia yang
menentukan hidup dan pengertian manusia. Idealisme adalah aliran filsafat yang
menekankan “idea" (dunia roh) sebagai objek pengertian dan sumber
pengetahuan. Idealisme berpandangan bahwa segala sesuatu yg dilakukan oleh
manusia tidaklah selalu harus berkaitan dengan hal-hal yang bersifat lahiriah,
tetapi harus berdasarkan prinsip kehorhanian (idea). Oleh sebab itu, Idealiseme
sangat mementingkan perasaan dan fantasi manusia sebagai sumber pengetahuan.
Tokoh aliran idealisme adalah Plato
(427-374 SM), murid Sokrates. Aliran idealisme merupakan suatu aliran ilmu
filsafat yang mengagungkan jiwa. Menurutnya, cita adalah gambaran asli yang
semata-mata bersifat rohani dan jiwa terletak di antara gambaran asli (cita)
dengan bayangan dunia yang ditangkap oleh panca indera. Pertemuan antara jiwa
dan cita melahirkan suatu angan-angan yaitu dunia idea. Aliran ini memandang
serta menganggap bahwa yang nyata hanyalah idea. Idea sendiri selalu tetap atau
tidak mengalami perubahan serta penggeseran, yang mengalami gerak tidak
dikategorikan idea. Keberadaan idea tidak tampak dalam wujud lahiriah, tetapi
gambaran yang asli hanya dapat dipotret oleh jiwa murni. Alam dalam pandangan
idealisme adalah gambaran dari dunia idea, sebab posisinya tidak menetap.
Sedangkan yang dimaksud dengan idea adalah hakikat murni dan asli. Keberadaannya
sangat absolut dan kesempurnaannya sangat mutlak, tidak bisa dijangkau oleh
material. Pada kenyataannya, idea digambarkan dengan dunia yang tidak berbentuk
demikian jiwa bertempat di dalam dunia yang tidak bertubuh yang dikatakan dunia
idea.
Plato yang memiliki filsafat
beraliran idealisme yang realistis mengemukakan bahwa jalan untuk membentuk
masyarakat menjadi stabil adalah menentukan kedudukan yang pasti bagi setiap
orang dan setiap kelas menurut kapasitas masin-masing dalam masyarakat sebagai
keseluruhan. Mereka yang memiliki kebajikan dan kebijaksanaan yang cukup dapat
menduduki posisi yang tinggi, selanjutnya berurutan ke bawah. Misalnya, dari
atas ke bawah, dimulai dari raja, filosof, perwira, prajurit sampai kepada
pekerja dan budak. Yang menduduki urutan paling atas adalah mereka yang telah
bertahun-tahun mengalami pendidikan dan latihan serta telah memperlihatkan
sifat superioritasnya dalam melawan berbagai godaan, serta dapat menunjukkan
cara hidup menurut kebenaran tertinggi.
Mengenai kebenaran tertinggi, dengan
doktrin yang terkenal dengan istilah ide, Plato mengemukakan bahwa dunia ini
tetap dan jenisnya satu, sedangkan ide tertinggi adalah kebaikan. Tugas ide
adalah memimpin budi manusia dalam menjadi contoh bagi pengalaman. Siapa saja
yang telah menguasai ide, ia akan mengetahui jalan yang pasti, sehingga dapat
menggunakan sebagai alat untuk mengukur, mengklasifikasikan dan menilai segala
sesuatu yang dialami sehari-hari. Kadangkala dunia idea adalah pekerjaan norahi
yang berupa angan-angan untuk mewujudkan cita-cita yang arealnya merupakan
lapangan metafisis di luar alam yang nyata. Menurut Berguseon, rohani merupakan
sasaran untuk mewujudkan suatu visi yang lebih jauh jangkauannya, yaitu intuisi
dengan melihat kenyataan bukan sebagai materi yang beku maupun dunia luar yang
tak dapat dikenal, melainkan dunia daya hidup yang kreatif (Peursen, 1978:36).
Aliran idealisme kenyataannya sangat
identik dengan alam dan lingkungan sehingga melahirkan dua macam realita.
Pertama, yang tampak yaitu apa yang dialami oleh kita selaku makhluk hidup
dalam lingkungan ini seperti ada yang datang dan pergi, ada yang hidup dan ada
yang demikian seterusnya. Kedua, adalah realitas sejati, yang merupakan sifat
yang kekal dan sempurna (idea), gagasan dan pikiran yang utuh di dalamnya
terdapat nilai-nilai yang murni dan asli, kemudian kemutlakan dan kesejatian
kedudukannya lebih tinggi dari yang tampak, karena idea merupakan wujud yang
hakiki. Prinsipnya, aliran idealisme mendasari semua yang ada. Yang nyata di
alam ini hanya idea, dunia idea merupakan lapangan rohani dan bentuknya tidak
sama dengan alam nyata seperti yang tampak dan tergambar. Sedangkan ruangannya
tidak mempunyai batas dan tumpuan yang paling akhir dari idea adalah arche yang
merupakan tempat kembali kesempurnaan yang disebut dunia idea dengan Tuhan,
arche, sifatnya kekal dan sedikit pun tidak mengalami perubahan. Inti yang
terpenting dari ajaran ini adalah manusia menganggap roh atau sukma lebih
berharga dan lebih tinggi dibandingkan dengan materi bagi kehidupan manusia.
Roh itu pada dasarnya dianggap suatu hakikat yang sebenarnya, sehingga benda
atau materi disebut sebagai penjelmaan dari roh atau sukma.
Aliran idealisme berusaha
menerangkan secara alami pikiran yang keadaannya secara metafisis yang baru
berupa gerakan-gerakan rohaniah dan dimensi gerakan tersebut untuk menemukan
hakikat yang mutlak dan murni pada kehidupan manusia. Demikian juga hasil
adaptasi individu dengan individu lainnya. Oleh karena itu, adanya hubungan
rohani yang akhirnya membentuk kebudayaan dan peradaban baru (Bakry, 1992:56).
Maka apabila kita menganalisa pelbagai macam pendapat tentang isi aliran
idealisme, yang pada dasarnya membicarakan tentang alam pikiran rohani yang
berupa angan-angan untuk mewujudkan cita-cita, di mana manusia berpikir bahwa
sumber pengetahuan terletak pada kenyataan rohani sehingga kepuasaan hanya bisa
dicapai dan dirasakan dengan memiliki nilai-nilai kerohanian yang dalam
idealisme disebut dengan idea.
Memang para filosof ideal memulai sistematika
berpikir mereka dengan pandangan yang fundamental bahwa realitas yang tertinggi
adalah alam pikiran [7]. Sehingga, rohani dan sukma merupakan tumpuan bagi
pelaksanaan dari paham ini. Karena itu alam nyata tidak mutlak bagi aliran
idealisme. Namun pada porsinya, para filosof idealisme mengetengahkan berbagai
macam pandangan tentang hakikat alam yang sebenarnya adalah idea. Idea ini
digali dari bentuk-bentuk di luar benda yang nyata sehingga yang kelihatan apa
di balik nyata dan usaha-usaha yang dilakukan pada dasarnya adalah untuk
mengenal alam raya. Sebagaimana Phidom mengetengahkan, dua prinsip pengenalan
dengan memungkinkan alat-alat inderawi yang difungsikan di sini adalah jiwa
atau sukma. Dengan demikian, dunia pun terbagi dua yaitu dunia nyata dengan
dunia tidak nyata, dunia kelihatan (boraton genos) dan dunia yang tidak
kelihatan (cosmos neotos).
Plato dalam mencari jalan melalui
teori aplikasi di mana pengenalan terhadap idea bisa diterapkan pada alam nyata
seperti yang ada di hadapan manusia. Sedangkan pengenalan alam nyata belum
tentu bisa mengetahui apa di balik alam nyata. Memang kenyataannya sukar
membatasi unsur-unsur yang ada dalam ajaran idealisme khususnya dengan Plato.
Ini disebabkan aliran Platonisme ini bersifat lebih banyak membahas tentang
hakikat sesuatu daripada menampilkannya dan mencari dalil dan keterangan
hakikat itu sendiri. Oleh karena itu dapat kita katakan bahwa pikiran Plato itu
bersifat dinamis dan tetap berlanjut tanpa akhir. Tetapi betapa pun adanya buah
pikiran Plato itu maka ahli sejarah filsafat tetap memberikan tempat terhormat
bagi sebagian pendapat dan buah pikirannya yang pokok dan utama. Antara lain
Betran Russel berkata: Adapun buah pikiran penting yang dibicarakan oleh
filsafat Plato adalah: kota utama yang merupakan idea yang belum pernah dikenal
dan dikemukakan orang sebelumnya.
Yang kedua, pendapatnya tentang idea
yang merupakan buah pikiran utama yang mencoba memecahkan persoalan-persoalan
menyeluruh persoalan itu yang sampai sekarang belum terpecahkan. Yang ketiga,
pembahasan dan dalil yang dikemukakannya tentang keabadian. Yang keempat, buah
pikiran tentang alam/cosmos, yang kelima, pandangannya tentang ilmu pengetahuan
[8] (Ali, 1990:28). Aliran-aliran dalam filsafat Idealisme 1. Idealisme
Obyektif Idealisme obyektif adalah suatu aliran filsafat yang pandangannya
idealis, dan idealismenya itu bertitik tolak dari ide universil (Absolute Idea-
Hegel / LOGOS-nya Plato) ide diluar ide manusia. Menurut idealisme obyektif
segala sesuatu baik dalam alam atau masyarakat adalah hasil dari ciptaan ide
universil. Pandangan filsafat seperti ini pada dasarnya mengakui sesuatu yang
bukan materiil, yang ada secara abadi diluar manusia, sesuatu yang bukan
materiil itu ada sebelum dunia alam semesta ini ada, termasuk manusia dan
segala pikiran dan perasaannya. Dalam bentuknya yang amat primitif pandangan
ini menyatakan bentuknya dalam penyembahan terhadap pohon, batu dsb-nya. Akan
tetapi sebagai suatu system filsafat, pandangan dunia ini pertama-tama kali
disistimatiskan oleh Plato (427-347 S.M), menurut Plato dunia luar yang dapat
di tangkap oleh panca indera kita bukanlah dunia yang riil, melainkan bayangan
dari dunia “idea” yang abadi dan riil.Pandangan dunia Plato ini mewakili
kepentingan klas yang berkuasa pada waktu itu di Eropa yaitu klas pemilik
budak.Dan ini jelas nampak dalam ajarannya tentang masyarakat “ideal”.
Pada jaman feodal, filsafat
idealisme obyektif ini mengambil bentuk yang dikenal dengan nama Skolastisisme,
system filsafat ini memadukan unsur idealisme Aristoteles (384-322 S.M), yaitu
bahwa dunia kita merupakan suatu tingkatan hirarki dari seluruh system hirarki
dunia semesta, begitupun yang hirarki yang berada dalam masyarakat feodal
merupakan kelanjutan dari dunia ke-Tuhanan. Segala sesuatu yang ada dan terjadi
di dunia ini maupun dalam alam semesta merupakan “penjelmaan” dari titah Tuhan
atau perwujudan dari ide Tuhan. Filsafat ini membela para bangsawan atau kaum
feodal yang pada waktu itu merupakan tuan tanah besar di Eropa dan kekuasaan
gereja sebagai “wakil” Tuhan didunia ini. Tokoh-tokoh yang terkenal dari aliran
filsafat ini adalah: Johannes Eriugena (833 M), Thomas Aquinas (1225-1274 M),
Duns Scotus (1270-1308 M), dsb.
Kemudian pada jaman modern sekitar
abad ke-18 muncullah sebuah system filsafat idealisme obyektif yang baru, yaitu
system yang dikemukakan olehGeorge.W.F Hegel (1770-1831 M). Menurut Hegel
hakekat dari dunia ini adalah “ide absolut”, yang berada secara absolut dan
“obyektif” didalam segala sesuatu, dan tak terbatas pada ruang dan waktu. “Ide
absolut” ini, dalam prosesnya menampakkan dirinya dalam wujud gejala alam,
gejala masyarakat, dan gejala fikiran. Filsafat Hegel ini mewakili klas borjuis
Jerman yang pada waktu itu baru tumbuh dan masih lemah, kepentingan klasnya
menghendaki suatu perubahan social, menghendaki dihapusnya hak-hak istimewa
kaum bangsawan Junker. Hal ini tercermin dalam pandangan dialektisnya yang
beranggapan bahwa sesuatu itu senantiasa berkembang dan berubah tidak ada yang
abadi atau mutlak, termasuk juga kekuasaan kaum feodal. Akan tetapi karena
kedudukan dan kekuatannya masih lemah itu membuat mereka tidak berani
terang-terangan melawan filsafat Skolatisisme dan ajaran agama yang berkuasa
ketika itu.
Idealisme Subyektif Idealisme
subyektif adalah filsafat yang berpandangan idealis dan bertitik tolak pada ide
manusia atau ide sendiri.Alam dan masyarakat ini tercipta dari ide manusia.
Segala sesuatu yang timbul dan terjadi di alam atau di masyarakat adalah hasil
atau karena ciptaan ide manusia atau idenya sendiri, atau dengan kata lain alam
dan masyarakat hanyalah sebuah ide/fikiran dari dirinya sendiri atau ide
manusia. Salah satu tokoh terkenal dari aliran ini adalah seorang uskup inggris
yang bernama George Berkeley (1684-1753 M), menurut Berkeley segala, sesuatu
yang tertangkap oleh sensasi/perasaan kita itu bukanlah bukanlah materiil yang
riil dan ada secara obyektif.
Sesuatu yang materiil misalkan
jeruk, dianggapnya hanya sebagai sensasi-sensasi atau kumpulan
perasaan/konsepsi tertentu (“bundles of conception” David Hume (1711-1776 M),
-ed), yaitu perasaan / konsepsi dari rasa jeruk, berat, bau, bentuk dsb. Dengan
demikianBerkeley dan Hume menyangkal adanya materi yang ada secara obyektif,
dan hanya mengakui adanya materi atau dunia yang riil didalam fikirannya atau
idenya sendiri saja. Kesimpulan yang dapat ditarik dari filsafat ini adalah,
kecenderungan untuk bersifat egoistis “Aku-isme” yang hanya mengakui yang riil
adalah dirinya sendiri yang ada hanya “Aku”, segala sesuatu yang ada diluar
selain “Aku” itu hanya sensasi atau konsepsi-konsepsi dari “Aku”. Untuk
berkelit dari tuduhan egoistis dan mengedepankan “Aku-isme/solipisme” Berkeley
menyatakan hanya Tuhan yang berada tanpa tergantung pada sensasi. Filsafat
Berkeley dan Hume ini adalah filsafat Borjuasi besar Inggris pada abad ke-18,
yang merupakan kekuatan reaksioner menentang materialisme klasik Perancis,
sebagai manifestasi dari kekuatiran atas revolusi di Inggris pada waktu itu.
Pada abad ke-19, Idealisme subyektif
mengambil bentuknya yang baru yang terkenal dengan nama “Positivisme”, yang di
kemukakan pertama kali olehAguste Comte (1798-1857 M), menurutnya hanya
“pengalaman”-lah yang merupakan kenyataan yang sesungguhnya , selain dari pada
itu tidak ada lagi kenyataan, dunia adalah hasil ciptaan dari pengalaman, dan
ilmu hanya bertugas untuk menguraikan pengalaman itu. Dan masih banyak lagi
pemikir-pemikir yang lainnya dalam filsafat ini, misalnya saja William Jones
(1842-1910 M) dan John Dewey (1859-1952), keduanya berasal dari Amerika Serikat
dan pencetus ide “pragmatisme”, menurut mereka Pragmatisme adalah suatu
filsafat yang menggunakan akibat-akibat praktis dari ide-ide atau
keyakinan-keyakinan sebagai suatu ukuran untuk menetapkan nilai dan
kebenarannya. Filsafat seperti ini sangat menekankan pada pandangan
individualistic, yang mengedepankan sesuatu yang mempunyai keuntungan atau
“cash-value”(nilai kontan)-lah yang dapat diterima oleh akal si “Aku” tersebut.
Pragmatisme berkembang di Amerika
dan adalah filsafat yang mewakili kaum borjuasi besar di negeri yang katanya
“the biggest of all”. Sebab dari pandangan filsafat seperti ini Imperialisme,
tindakan eksploitasi dan penindasan dapat dibenarkan selama dapat mendapatkan
keuntungan untuk si “Aku”. B. Rasionalisme Rasionalisme adalah paham filsafat
yang mengatakan bahwa akal (reason) adalah alat terpenting untuk memperoleh
pengetahuan. Menurut aliran rasionalisme suatu pengetahuan diperoleh dengan
cara berpikir. Latarbelakang munculnya rasionalisme adalah keinginan untuk
membebaskan diri dari segala pemikiran tradisional (scholastic), yang pernah
diterima, tetapi ternyata tidak mampu mengenai hasil-hasil ilmu pengetahuan
yang dihadapi.
Pada tokoh aliran Rasionalisme
diantaranya adalah Descartes (1596- 1650 M ). 1. Rene Descartes ( 1596- 1650 M
) Descartes disamping tokoh rasionalisme juga dianggap sebagai bapak filsafat,
terutama karena dia dalam filsafat-filsafat sungguh-sungguh diusahakan adanya
metode serta penyelidikan yang mendalam. Ia ahli dalam ilmu alam, ilmu hukum,
dan ilmu kedokteran. Ia yang mendirikan aliran Rasionalisme berpendapat bahwa
sumber pengetahuan yang dapat dipercayai adalah akal. Ia tidak puas dengan
filsafat scholastik karena dilihatnya sebagai saling bertentangan dan tidak ada
kepastian. Adapun sebabnya karena tidak ada metode berpikir yang pasti.
Descartes merasa benar-benar
ketegangan dan ketidak pastian merajalera ketika itu dalam kalangan filsafat.
Scholastic tak dapat memberi keterangan yang memuaskan kepada ilmu dan filsafat
baru yang dimajukan ketika itu kerapkali bertentangan satu sama lain. Descartes
mengemukakan metode baru yaitu metode keragu-raguan. Seakan- akan ia membuang
segala kepastian, karena ragu-ragu itu suatu cara berpikir. Ia ragu- ragu bukan
untuk ragu-ragu, melainkan untuk mencapai kepastian. Adapun sumber kebenaran
adalah rasio. Hanya rasio sejarah yang dapat membawa orang kepada kebenaran.
Rasio pulalah yang dapat memberi pemimpin dalam segala jalan pikiran. Adapun
yang benar itu hanya tindakan budi yang terang-benderang, yang disebutnya ideas
claires et distinctes. Karena rasio saja yang dianggap sebagai sumber
kebenaran, maka aliran ini disebut Rasionalisme.
2. Spinoza (1632- 1677 M) Spinoza
dilahirkan pada tahun 1632 M. Nama aslinya adalah barulah Spinoza ia adalah
seorang keturunan Yahudi di Amsterdam. Ia lepas dari segala ikatan agama maupun
masyarakat, ia mencita- citakan suatu sistem berdasrkan rasionalisme untuk
mencapai kebahagiaan bagi manusia.menurut Spinoza aturan atau hukum ynag
terdapat pada semua hal itu tidak lain dari aturan dan hukum yang terdapat pada
idea. Baik Spinoza maupun lebih ternyata mengikuti pemikiran Descartes itu, dua
tokoh terakhir ini juga menjadikan substansi sebagai tema pokok dalam
metafisika, dan kedua juga mengikuti metode Descantes.
3. Leibniz Gottfried Eilhelm von
Leibniz lahir pada tahun 1646 M dan meninggal pada tahun 1716 M. ia filosof
Jerman, matematikawan, fisikawan, dan sejarawan. Lama menjadi pegawai
pemerintahan, pembantu pejabat tinggi Negara. Waktu mudanya ahli piker Jerman
ini mempelajari scholastik. Ia kenal kemudian aliran- aliran filsafat modern
dan mahir dalam ilmu. Ia menerima substansi Spinoza akan tetapi tidak menerima
paham serba tuhannya (pantesme). Menurut Leibniz substansi itu memang
mencantumkan segala dasar kesanggupannya, dari itu mengandung segala
kesungguhan pula. Untuk menerangkan permacam- macam didunia ini diterima oleh
Leibniz yang disebutnya monaden. Monaden ini semacam cermin yang membayangkan
kesempurnaan yang satu itu dengan cara sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar