By Marsigit
Reviewed by Naafi Awwalunita (09301241024)
Salah satu artikel yang ditulis oleh bapak Marsigit ini telah menarik perhatian saya dari judulnya saja. Beliau telah membagikan banyak pengalaman dan referensi bacaan yang sangat berharga bagi pembacanya. Saya akan mereview artikel bapak Marsigit yang berjudul Mathematical Thinking Across Multirateral Culture atau kurang lebihnya dalam bahasa Indonesia, pola pikir matematika melalui budaya multirateral.
Artikel ini disusun untuk membagi ide dan cara pandang berfikir matematis yang sangat dibutuhkan bagi perkembangan iptek dan pertumbuhan ekonomi negara-negara anggota APEC. Selain itu, artikel ini juga dibuat dengan tujuan mengembangkan pendekatan pengajaran dalam kerangka berpikir matematika melalui studi pembelajaran diantara Negara-negara APEC.
Untuk mencapai tujuan tersebut, sejak 2004, konferensi internasional APEC telah diselenggarakan di Jepang dan Thailand dengan mengangkat tema inovasi dalam mengajar matematika melalui studi pembelajaran. Pertemuan ketiga kementrian pendidikan APEC yang diselenggarakan pada tanggal 29 sampai 30 April 2004 di Santiago telah memutuskan bahwa prioritas cakupan untuk aktifitas jejaring social di masa depan bertujuan untuk menstimulasi belajar pada matematika dan sains. Berpijak pada prioritas yang telah ditetapkan, telah terdapat beberapa aktifitas dari proyek APEC untuk meningkatkan kolaborasi dalam inovasi-inovasi belajar dan mengajar matematika di budaya yang berbeda.
Selanjutnya akan dibahas mengenai pemikiran matematika sebagai pusat bahasan dalam inovasi-inovasi belajar mengajar matematika. Dalam artikel tersebut terdapat 7 negara dengan pemahaman/konteks budaya mereka masing-masing dalam proses belajar mengajar matematika menurut pandangan para ahli didik. Negara pertama yang dibahas adalah Australia yang berdasar pada hasil pemikiran/karya Stacey Kaye. Pada dasarnya, dia mengindikasikan setidaknya terdapat tiga cara yang bisa dilakukan dalam menanamkan pemikiran matematika, yaitu sebagai tujuan utama dari bersekolah, sebagai suatu jalan dalam belajar matematika dan sebagai cara mengajar matematika. Pada bagian tersebutlah, pemikiran matematika akan mendukung sains, teknologi, pertumbuhan dan perkembangan ekonomi dalam kehidupan.
Merujuk pada konteks Australia, Stacey K (2005) menemukan bahw memilih untuk memecahkan masalah dengan matematika akan sangat membantu seorang guru ternyata memerlukan kemampuan dan kemauan yang sangat besar. Dalam risetnya, Stacey K(2005) juga menuturkan bahwa prinsip utama matematika pada dasarnya meliputi: 1. Bekerja secara sistematis, 2. Menspesialisasikan – mengeneralisasikan; belajar dari contoh umum lalu memecahkan sendiri kasus lainnya yang hampir sama, 3. Keyakinan: kebutuhan menjustifikasi, menerangkan dan keterhubungan, dan 4. Tugas definisi dalam matematika.
Tidak jauh berbeda dengan konteks British yang dipaparkan oleh David Tall, bahwa setidaknya terdapat dua cara membangun pemikiran matematika:
1) Mengeksplorasi benda tertentu yang sedang ia pelajari dan gunakan untuk mendeskripsikannya. Misal, segitiga memiliki tiga sisi dan kemudian definisikan sebagai segitiga adalah sebuah bangun datar yang terdiri dari tiga garis lurus yang bergabung di tiap ujungnya.
2) Berfokus pada beberapa aksi dan pengorganisasian aksi sebagai prosedur matematis, misalnya operasi aritmatika
Indonesia sendiri memiliki konteks yang berbeda dengan Negara-negara lainnya. Bapak Marsigit sendiri yang akan memaparkan hasil karyanya mengenai konteks matematika di Indonesia. Dimulai pada bulan Juni 2006 berdasarkan dekrit kementrian nomer 22, 23, 24 tahun 2006, pemerintahan Indonesia telah mengimplementasikan kurikulum baru bagi sekolah menengah pertama dan menengah atas yang disebut KTSP. Kurikulum tersebut memadukan dua paradigm yang salah satunya menekankan kompetensi peserta didik dan di sisi lainnya focus pada proses pembelajaran para murid.
Apa yang terjadi di Indonesia ternyata hampir sama terjadi juga di Malaysia, kebanyakan guru terlalu focus pada pola drill dan latihan sehingga para murid familiar dengan pola test dan jawaban yang diberikan nantinya. Para murid diajarkan untuk menguasai teknik menjawab bukan menjalankan kemampuan berpikir matematis dan strategi untuk menyelesaikan suatu masalah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar